apituley_etok Translate

Cari Blog Ini

Memuat...

apituley_etok song

Selasa, 27 November 2012

KINESIOLOGI PANAHAN (Daya Tahan Kekuatan dan Gerak Kinestetik dalam Ketrampilan Memanah Pada Olahraga Panahan)

video

Daya Tahan Kekuatan dan Gerak Kinestetik dalam Ketrampilan Memanah Pada Olahraga Panahan

oleh
Vicktor H. R Apituley

Panahan adalah olahraga ketepatan sasaran, karena tujuan akhir dari memanah adalah menembak anak panah kepermukaan sasaran (target face) setepat mungkin, sehinggga salah satu faktor dasar yang diperlukan dalam gerakan memanah adalah keajegan (consistency) yang harus dilakukan secara terus menerus selama latihan dan selama berlangsungnya kompetisi. Selain keajegan, banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam memanah, dua faktor diantaranya adalah kondisi fisik dan kemampuan gerak.
Dilihat dari karakteristiknya olahraga panahan adalah melepaskan panah melalui lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Apabila diperbandingkan dengan olahraga yang memerlukan gerak yang statis atau suatu keterampilan tertutup lainnya seperti cabang olahraga menembak. Perbedaan panahan dengan menembak terletak pada jenis kekuatan dorongannya. Pada menembak, kekuatan dorongan diperoleh dari ledakan alat itu sendiri, sedangkan pada panahan kekuatan dorongan sangat tergantung pada energi atau tenaga yang timbul karena tarikan atau rentangan pemanah terhadap busur, dimana energi yang diperoleh dari rentangan diubah menjadi daya dorong pada waktu anak panah dilepaskan. Oleh karena itu penggunaan alat tersebut memerlukan kekuatan dan daya tahan otot-otot tertentu terutama untuk menarik busur.

1.         Daya Tahan-Kekuatan
Daya tahan (endurance) suatu kemampuan otot untuk melakukan kontraksi yang berturut-turut atau mampu mempertahankan suatu kontraksi statis untuk waktu yang lama (Harsono, 1986). Hairy (1989) mengemukakan daya tahan otot sebagai kemampuan sekumpulan otot dalam mempertahankan suatu usaha dalam waktu yang lama tanpa mengurangi unjuk kerja. Pate dkk. Mengistilahkan dengan ketahanan otot yaitu kemampuan melakukan kontraksi isotonik atau isokenetik berulangkali atau mempertahankan kontraksi isometrik terhadap beban yang nyata (1993). Lebih jauh Dick dkk menyatakan bahwa daya tahan otot, yang diistilahkan dengan strength endurance, adalah kemampuan seluruh organisme tubuh untuk mengatasi lelah pada waktu melakukan aktivitas yang menuntut strength dalam waktu yang lama (Harsono, 1986). Selanjutnya Hatfield menjelaskan bahwa daya tahan kekuatan otot akan lelah dengan cepat ketika tekanan maximum diberikan. Kemampuan untuk menggunakan kekuatan otot maksimum dari waktu ke waktu tanpa kehilangan banyak kekuatan tergantung pada daya tahan kardiovascular dan daya tahan otot setempat. Namun demikian, tekanan diberikan pada pasokan energi dan kekuatan di dalam sel otot.
Kekuatan (strength) adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan (Harsono, 1986). Badriah (2001) mengemukakan bahwa kekuatan otot adalah kemampuan kontraksi secara maksimal yang dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot. Menurut Sadoso Sumosardjuno (1997) kekuatan otot adalah kemampuan otot-otot untuk menggunakan tenaga maksimal atau mendekati maksimal, untuk mengangkat beban. Secara mekanis kekuatan otot ini didefinisikan sebagai gaya (force) yang dapat dihasilkan oleh otot atau Sekelompok otot dalam kontraksi maksimal, sehingga latihan untuk meningkatkan kekuatan otot harus bersifat menyeluruh dan melibatkan alat gerak pasif maupun aktif. Kekuatan otot ini merupakan komponen yang penting bagi seseorang, karena kekuatan otot merupakan daya dukung gerakan dalam melakukan aktivitas kerja, sehingga dimerlukan latihan kekuatan otot secara teratur.
 Pengertian dari keduanya apabila ditelusuri sangat diperlukan untuk aktivitas olahraga. Seorang spiker pemain bola voli membutuhkan daya tahan melompat berulang-ulang dan kekuatan melakukan smash berulang-ulang, demikian pula cabang olahraga tinju, gulat, judo dan sebagainya. Sering pula dalam pertandingannya tidak hanya dilakukan dua kali, akan tetapi beberapa kali, semuanya membutuhkan dayatahan dan kekuatan. Sehingga dapat disimpulkan kombinasi daya tahan otot dan kekuatan otot (muscle strengthendurance) sangat dominan bagi cabang olahraga tidak terkecuali pada cabang olahraga panahan (pemanah).
Kemampuan fisik panahan pada dasarnya adalah suatu aktivitas yang memerlukan tenaga yang memadai untuk ditransfer dari busur ke panah agar supaya dapat menggerakkan panah ke sasaran yang dituju. Komponen fisik penting cabang olahraga panahan salah satunya adalah kekuatan. Furqon dan Doewes mengemukakan bahwa kualitas kekuatan yang dibutuhkan dalam olahraga panahan adalah pengerahan unsur kekuatan terhadap suatu peralatan. Adapun peralatan yang dimaksud adalah busur beserta perangkatnya. Adapun jenis kekuatan yang dibutuhkan adalah dayatahan kekuatan (strength endurance). Selanjutnya dijelaskan bahwa olahraga panahan memerlukan pengembangan koordinasi kekuatan, walaupun tidak memerlukan kekuatan maksimal. Koordinasi ini harus dikembangkan dengan gerakan yg tepat, mudah dan cepat. Harsono (1986) secara lebih lanjut menyatakan bahwa dalam cabang olahraga panahan, seringkali otot harus bekerja untuk waktu yang lama, sehingga otot-otot yang kuat akhirnya harus dikembangkan agar menjadi otot yang kuat dan mempunyai daya tahan.
Daya tahan dan kekuatan merupakan bagian dari beberapa komponen kondisi fisik yang harus dikembangkan dalam program latihan, dan pengertian dari dua dasar kata tersebut berbeda. Dick, dkk yang dikutip oleh Harsono (1986) menyatakan bahwa daya tahan otot, yang diistilahkan dengan strength endurance, adalah kemampuan seluruh organisme tubuh untuk mengatasi lelah pada waktu melakukan aktivitas yang menuntut strength dalam waktu yang lama. Selanjutnya Hatfield menjelaskan bahwa daya tahan kekuatan otot akan lelah dengan cepat ketika tekanan-tekanan maksimum diberikan. Kemampuan untuk menggunakan kekuatan otot maximum dari waktu ke waktu tanpa kehilangan banyak kekuatan tergantung pada daya tahan kardiovascular dan daya tahan otot setempat. Namun demikian, tekanan diberikan pada pasokan energi dan kekuatan di dalam sel otot.
2.      Gerak Kinestetik
Rangkaian keterampilan memanah yang melibatkaan beberapa jenis gerak, menuntut kualitas pengerahan tenaga yang efisien, maka diperlukan suatu koordinasi kerja antara kelompok otot-otot yang terlibat dalam gerak tersebut. Koordinasi pada keterampilan memanah erat kaitannya dengan komponen fisik, berupa: kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas, yang terkait erat dalam penyempurnaan teknik. Kualitas koordinasi gerak dalam memanah tercermin dari kemampuan untuk melakukan gerak secara mulus, tepat dan efisien. Koordinasi keterampilan gerak dalam memanah merupakan cerminan dari gerak kinestetik, berupa pengusaan gerak memanah secara keseluruhan. Untuk dapat melakukan koordinasi gerak memanah dengan baik, maka diperlukan kesadaran akan rencana gerak dan proses gerak yang sedang dilakukan. Menurut Barrow dan Rosemary (1979), kinestetik adalah perasaan gerak yang memberikan kesadaran akan posisi tubuh atau bagian-bagian tubuh pada waktu, sehingga gerak tubuh dapat terkontrol dengan akurat. Rasa kinestetik (kinesthetic sens) adalah pengetahuan tentang posisi tubuh dalam ruang untuk memenuhi atau merasakan suatu gerakan. Sage menyatakan bahwa kinestetik adalah kemampuan pengasaan gerak tubuh yang melibatkan proses pengolahan informasi, bermula dari stimulus pada otot tendon dan sendi, kemudian disalurkan melalui jaringan syaraf ke otak dan kemudian direspon dengan tepat (Sage, 1977).
Sedangkan Oxendine (1984) menyatakan bahwa kinestetik dipengaruhi oleh empat factor yaitu: (1) posisi tubuh atau anggota tubuh, anggota tubuh bagian atas mempunyai derajat kinestetik tinggi dibandingkan anggota badan bagian bawah, (2) pengalaman, gerak yang relatif lebih besar kemungkinannya untuk dapat dilakukan dengan tepat, (3) keseimbangan, merupakan faktor penting pada saat melakukan gerakan; tubuh yang stabil mempunyai tingkat kinestetik yang lebih baik dibandingkan pada saat tubuh dalam keadaan labil, dan (4) oreiantasi ruang, yaitu kemampuan dalam mempersepsikan pola gerak yang akan dilakukan. Pendapat lain menyatakan bahwa olahraga panahan adalah olahraga yang memerlukan : (1) koordinasi gerak visual (ketepatan); (2) rasa gerak (feeling/sense of kinesthetics); (3) kekuatan lengan (daya tahan kekuatan); (4) panjang tarikan; (5) konsentrasi; dan (6) keseimbangan emosi.
Dengan memiliki kemampuan rasa gerak (kinestetik) seseorang bisa membedakan rasanya gerakan yang benar dan rasanya gerakan yang salah sehingga ia bisa berusaha selalu melakukan gerakan yang benar dan menghindari untuk tidakmelakukan gerakan yang salah dalam berolahraga (Depdikbud, 1999/2000). Menyimak dari beberapa pendapat tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan gerak kinestetik dalam peneulisan ini adalah kemampuan seseorang untuk membedakan perasaan gerak yang benar dan yang salah sehingga ia dapat berusaha selalu melakukan gerakan yang benar dan menghindari untuk tidak melakukan gerakan yang salah dalam panahan.
Ditinjau dari segi penggunaan sistem energi, dapat dikatakan bahwa olahraga panahan murni menggunakan oksigen. Bompa (1990) mengemukakan bahwa kekuatan sistem energi olahraga adalah: (1) ATP-PC sebesar 0% (2) LA sebesar 0%, dan (3) 02 sebesar 100%. Pate, Rotella, McClenaghan dalam terjemahan Dwijowinoto (1993) mengemukakan bahwa olahraga panahan memerlukan kapasitas aerobik maksimal untuk putera sebesar 58 mL/kg.BB./menit dan untuk puteri sebesar 40 mL/kg.BB./menit.
Olahraga panahan merupakan kombinasi dan berbeda di antara keterampilan gerak halus dan kasar. Keterampilan gerak halus adalah gerakan yang melibatkan otot-otot kecil, terutama jari-jari, dan lengan bawah serta seringkali melibatkan koordinasi antara mata dan tangan, sedangkan keterampilan gerak kasar adalah gerakan yang melibatkan atau mengunakan otot-otot besar. Hal ini tampak pada saat menarik dan memanah busur diperlukan keterampilan gerak kasar, tetapi membidik dan pelepasan panah termasuk keterampilan gerak halus yang memerlukan koordinasi mata-tangan. Aktivitas ini pada dasarnya memerlukan suatu rangkaian yang diawali dari keterampilan gerak kasar kemudian berlanjut ke keterampilan gerak halus. Seidel, at al (1975) mengemukakan bahwa panahan adalah suatu aktivitas yang memerlukan tenaga yang memadai untuk ditransfer dari busur ke panah supaya menggerakkan panah ke sasaran yang dituju. Jika busur direntang, maka akan menghasilkan potensi energi. Pada saat pelepasan potensi energi diubah menjadi energi kinetik, maka energi diberikan ke panah. .
Kegagalan dalam memberikan tenaga yang memadahi ke panah akan menghasilkan tembakan yang lemah dan panah tidak dapat melaju sampai jauh. Busur adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk membantu memberikan tenaga pada panah. Kerja otot adalah melenturkan busur. Menekuknya busur tersebut disebabkan oleh tarikan tangan penarik busur. Pada saat tali busur dilepas dari posisi tekukannya, maka tenaga diberikan pada panah. Tenaga yang memadai harus ditransfer dari busur ke panah untuk menggerakan panah mencapai sasaran yang diinginkan. Tenaga tersebut diarahkan melalui aktivitas-aktivitas dalam serangkaian penembakan yang dilakukan oleh pemanah. Dari sudut biomekanis, olahraga panahan adalah mempertahankan sikap yang memerlukan kekuatan otot pada waktu menarik, membidik dan melepaskan panah, ditambah dengan perhitungan arah bagi jalannya panah, setepat mungkin.
Berdasarkan sikap seperti itu, maka panahan termasuk dalam bentuk kelompok keterampilan yang memerlukan otot-otot untuk sikap memanah dan  mengarahkan panahnya ke sasaran. Pada saat tarikan dilakukan oleh lengan penarik busur (kontraksi isotonis/dinamis), maka lengan pemegang busur harus dijaga atau harus dipertahankan untuk mengatasi kekuatan tarikan. Pada saat tarikan penuh, maka lengan yang memegang busur harus benar-benar bertahan/terkunci pada tempatnya (kontraksi isometris/statis). Ini akan memungkinkan lengan yang memegang busur menyerap tenaga atau reaksi dari busur pada saat panah meninggalkan tali busur. Secara kinesiologis, khususnya menganalisis otot-otot utama dari tubuh bagian atas yang terlibat dalam memanah. Furqon dan Doewes (2000) mengutip pendapat dari Consumer Guidemengemukakan bahwa otot-otot utama yang perlu dikembangkan dalam olahraga panahan adalah otot-otot leher, bahu, bicep, triceps, lengan bawah, pergelangan tangan, perut dan otot-otot togok.
Perlu diketahui bahwa otot-otot lengan yang bekerja dalam olahraga panahan terdiri dari tiga bagian yaitu otot lengan bagian atas, otot lengan bagian bawah dan otot–otot tangan. Sedangkan otot-otot yang bekerja dominan adalah otot lengan seperti otot tricep brachii,deltoids dan otot bicep brachii. Otot-otot yang disebutkan, diperkuat oleh Hardianto Wibowo di dalam bukunya seperti dijelaskan sebagai berikut.
A. Otot lengan bagian atas
1. otot-otot ventralis disebut otot bagian atas (fleksi), 2. otot-otot dorsalis atau kedang (ekstensi)
a. m. Deltoids, b. m. bicep brachii, c. m. tricep brachii
B. Otot lengan bagian bawah
a. Otot-otot ventralis, b. Otot-otot radialis, c. Otot-otot Dorsalis
C. Otot tangan 
1. Otot-otot tenar/ ibu jari/ bagian Lateral
a. M. abduktor pollisis bervis, b. M. opponeus pollisis, c. M. flexor pollisis, d. M. abduktor pillisis
2. Otot-otot hipotenar/ kelingking/ bagian medial
a. m. palmoris brevis, b. m. abductor digiti quinti, c. m. flexor digiti quinti, d. m. opponeus digiti quinti
3. Otot-otot bagaian dalam lengan/ bagian tengah
a. m. Lumbrikales, b. m. interossesi dorsalis, c. m. interossesi volaris 
Achmad Damiri, Anatomi Manusia(1994)
Ketepatan termasuk bagian dari komponen fisik koordinasi khusus (Specific coordination). Bompa (1990) mengemukakan bahwa koordinasi khusus menggambarkan kemampuan seorang untuk melakukan berbagai gerakan dalam olahraga tertentu dengan cepat, tetapi juga dilakukan dengan mudah, mulus dan tepat. Dengan demikian koordinasi khusus berkaitan erat dengan kekhususan keterampilan gerak, dan memperlengkapi atlet dengan kemampuan tambahan agar dapat melakukannya dengan efisiensi dalam latihan dan kompetisi. Koordinasi khusus juga memasukkan pengembangan koordinasi yang dikombinasikan dengan kemampuan yang lain, berdasarkan karakteristik cabang olahraga yang dibina. Olahraga panahan memerlukan pengembangan koordinasi kekuatan walaupun tidak memerlukan kekuatan maksimal. Koordinasi ini harus dikembangkan dengan gerakan yang tepat, mudah dan cepat.
Keterampilan merupakan bagian dari keterampilan (skill) gerak. Singer (1980) mengemukakan bahwa “keterampilan = kecepatan x ketepatan x bentuk x kemampuan beradaptasi”. Ketepatan gerak diperlukan dalam menentukan bagaimana aktivitas gerak dilakukan dengan berhasil. Keberhasilan ini juga ditentukan oleh produktivitas gerak yang dilakukan. Produktivitas gerak berkaitan erat dengan konsistensi kinerja. Pemanah yang berhasil adalah pemanah yang mempunyai kinerja dan berhasil yang konsisten. Jika pemanah menggunakan teknik yang benar, ia harus mampu mengulangi tindakannya dengan tepat dalam tiap melakukan tembakan. Adanya sedikit penyimpangan yang berarti dalam penempatan panah di sasaran. Ketepatan diukur dalam kaitannya dengan penempatan panah di sasaran dan sistem pencataan nilai. Perbedaan diantara keajekan dan ketidakajekan tampak pada penempatan panah di sasaran dan nilai yang diperoleh. Pemanah yang konsisten menembakkan sejumlah panahnya disasaran paling berdekatan, sebaiknya pemanah yang tidak konsisten menembakkan sekelompok panahnya di sasaran dalam posisis yang menyebar. Perolehan nilai mulai meningkat dan makin memperlihatkan keterampilan menembak, karena disertai meningkatnya konsistensi.


BAB II
PENUTUP

1.      Simpulan
Dilihat dari karakteristiknya olahraga panahan adalah melepaskan panah melalui lintasan tertentu menuju sasaran pada jarak tertentu. Dalam olahraga panahan atau olahraga lainnya, atlet sangat dituntut untuk menampilkan penampilan terbaiknya. Nampaknya ini bukanlah sesuatu yang mudah bagi atlet yang tidak terlatih, bahkan atlet terlatih pun seringkali mengalami kesulitan. Untuk mengatasi hal ini, bisa dibantu dengan memahami kinesiologi.
Kemampuan fisik panahan pada dasarnya adalah suatu aktivitas yang memerlukan tenaga yang memadai untuk ditransfer dari busur ke panah agar supaya dapat menggerakkan panah ke sasaran yang dituju.
Kualitas kekuatan yang dibutuhkan dalam olahraga panahan adalah pengerahan unsur kekuatan terhadap suatu peralatan. Adapun peralatan yang dimaksud adalah busur beserta perangkatnya. Adapun jenis kekuatan yang dibutuhkan adalah dayatahan kekuatan (strength endurance). Selanjutnya dijelaskan bahwa olahraga panahan memerlukan pengembangan koordinasi kekuatan, walaupun tidak memerlukan kekuatan maksimal. Koordinasi ini harus dikembangkan dengan gerakan yg tepat, mudah dan cepat. secara lebih lanjut menyatakan bahwa dalam cabang olahraga panahan, seringkali otot harus bekerja untuk waktu yang lama, sehingga otot-otot yang kuat akhirnya harus dikembangkan agar menjadi otot yang kuat dan mempunyai daya tahan.
Kinestetik adalah perasaan gerak yang memberikan kesadaran akan posisi tubuh atau bagian-bagian tubuh pada waktu, sehingga gerak tubuh dapat terkontrol dengan akurat. Kinestetik dipengaruhi oleh empat factor yaitu: (1) posisi tubuh atau anggota tubuh, anggota tubuh bagian atas mempunyai derajat kinestetik tinggi dibandingkan anggota badan bagian bawah, (2) pengalaman, gerak yang relatif lebih besar kemungkinannya untuk dapat dilakukan dengan tepat, (3) keseimbangan, merupakan faktor penting pada saat melakukan gerakan; tubuh yang stabil mempunyai tingkat kinestetik yang lebih baik dibandingkan pada saat tubuh dalam keadaan labil, dan (4) oreiantasi ruang, yaitu kemampuan dalam mempersepsikan pola gerak yang akan dilakukan.
Berdasarkan sikap seperti itu, maka panahan termasuk dalam bentuk kelompok keterampilan yang memerlukan otot-otot untuk sikap memanah dan  mengarahkan panahnya ke sasaran. Pada saat tarikan dilakukan oleh lengan penarik busur (kontraksi isotonis/dinamis), maka lengan pemegang busur harus dijaga atau harus dipertahankan untuk mengatasi kekuatan tarikan. Pada saat tarikan penuh, maka lengan yang memegang busur harus benar-benar bertahan/terkunci pada tempatnya (kontraksi isometris/statis). Ini akan memungkinkan lengan yang memegang busur menyerap tenaga atau reaksi dari busur pada saat panah meninggalkan tali busur. Secara kinesiologis, khususnya menganalisis otot-otot utama dari tubuh bagian atas yang terlibat dalam memanah. Furqon dan mengutip pendapat dari Consumer Guidemen mgemukakan bahwa secara kinesiologi otot-otot utama yang perlu dikembangkan dalam olahraga panahan adalah otot-otot leher, bahu, bicep, triceps, lengan bawah, pergelangan tangan, perut dan otot-otot togok.
Seorang pemanah dikatakan baik jika ia memiliki konsistensi memanah yang baik serta kondisi fisik yang prima, jika ia memiliki daya tahan serta kekuatan otot yang dipergunakan langsung dalam memanah.  Secara keseluruhan daya tahan kekuatan merupakan suatu reaksi dari otot untuk melawan bebanatau kelelahan selama penampilan berlangsung. Kualitas daya tahan kekuatan tersusun dari dua faktor yaitu   kekuatan dan daya tahan. Kukuatan dan daya tahan otot dalam olahraga panahan sangat penting untuk menarik busur berulang-ulangdalam waktu yang relatif lama serata gerak kinestetik berhubungan dengan konsistensi seseorang dalam mempertahankan sikap tubuh dalam memanah
2.      Saran
Setelah mempelajari lebih dalam tentang makalah ini maka seluruh insan olahraga mulai dari kalangan akademisi, atlet, pelatih, dan pengurus cabang olahraga mau lebih giat lagi belajar mengenai ilmu kinesiologi agar perkembangan ilmu keolahragaan di Indonesia bisa sejalan dengan perkembangan IPTEK sehingga nantinya diharapkan prestasi olahraga Indonesia bisa meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, S. 2007. Anatomi Dasar dan Kinesiologi. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya
Komarudin, 2012, Potensi Cidra Pada Olahraga Panahan Dan Upaya Penangulangannya. Universitas pendidikan Indonesia
Nasrulloh A. 2002 Pengaruh Latihan Circuit Weihgt Training Terhadap Kekuatan Dan Daya Tahan Otot. Universitas Negeri Yogyakarta.
Purnomo. A., Tanpa Tahun. Ketrampilan Memanah.
(www.ketrampilanmemanah.com)
Wen, 2010. Analisis biomekanika teknik Release Pada Cabang Olahraga Panahan. (http://wengayo.blogspot.com/2010/06/analisis-biomekanik-teknik-release-  pada.html).




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar